Matthias Jaissle saat memimpin pertandingan sepak bola
Matthias Jaissle dikabarkan mencapai kesepakatan verbal dengan Newcastle United.

Mengenal Matthias Jaissle, Calon Pelatih Baru Newcastle United

Oleh Lusiana Patiran 2026-08-02 4 menit

Matthias Jaissle diproyeksikan menjadi manajer baru Newcastle United setelah mencapai kesepakatan verbal menyusul kepergian Eddie Howe.

Profil Singkat dan Perjalanan Karier Matthias Jaissle

Manajemen Newcastle United dikabarkan telah mencapai kesepakatan verbal dengan Matthias Jaissle untuk menjabat sebagai manajer baru klub Premier League tersebut hingga Juni 2030. Berdasarkan laporan berbagai media pada akhir Juli 2026, penunjukan pelatih asal Jerman berusia 38 tahun ini dilakukan untuk mengisi kursi kepelatihan yang ditinggalkan oleh Eddie Howe secara mendadak. Negosiasi antara kedua belah pihak dilaporkan berjalan lancar karena status kepemilikan bersama antara Newcastle United dan Al Ahli di bawah naungan Public Investment Fund asal Arab Saudi. "Proses komunikasi berjalan dengan sangat efisien berkat struktur kepemilikan klub," tulis laporan yang merinci pergerakan transfer manajer tersebut.

Sebelum meniti jalur kepelatihan profesional, Jaissle mengawali kariernya sebagai pemain bola berposisi sebagai bek tengah di akademi VfB Stuttgart dan klub Hoffenheim. Ia bahkan sempat mencatatkan satu penampilan bersama tim nasional Jerman kelompok umur di bawah 21 tahun sebelum cedera parah memaksanya pensiun dini pada 2014 saat usianya baru menginjak 25 tahun. Tidak lantas meninggalkan dunia sepak bola, ia langsung beralih profesi menjadi asisten manajer di klub Denmark, Brondby, pada tahun 2017. Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menangani tim kelompok umur RB Salzburg U-18 dan kemudian naik menjadi pelatih kepala FC Liefering.

Puncak karier awalnya di daratan Eropa dimulai ketika ia dipromosikan menjadi pelatih kepala tim utama Red Bull Salzburg pada tahun 2021 untuk menggantikan posisi Jesse Marsch. Selama berada di Austria, Jaissle berhasil mempersembahkan dua gelar juara Liga Bundesliga Austria secara berturut-turut pada musim 2021-2022 dan 2022-2023. Selain mendominasi kompetisi domestik, ia juga mencatatkan sejarah dengan membawa klub tersebut menembus babak gugur Liga Champions untuk pertama kalinya. Prestasi gemilang inilah yang kemudian menarik minat klub raksasa Liga Pro Saudi, Al Ahli, untuk merekrutnya pada tahun 2023.

Mengutip laporan dari catatan kariernya, kepindahan Jaissle ke Arab Saudi membuktikan kapasitasnya dalam mengelola skuad bertabur bintang internasional seperti Riyad Mahrez, Ivan Toney, Roberto Firmino, dan Franck Kessie. Di bawah asuhannya, Al Ahli berhasil merengkuh gelar juara Liga Champions Asia Elite secara beruntun pada musim 2024-2025 dan 2025-2026. "Ia telah membuktikan kemampuan manajerialnya di level tertinggi kompetisi internasional," ujar pengamat sepak bola mengomentari catatan trofi sang juru taktik. Pengalaman panjang tersebut kini menjadi modal utama bagi Jaissle untuk menghadapi tantangan baru di kancah Liga Inggris.

Filosofi Taktik dan Gaya Permainan Khas Jaissle

Dalam hal pendekatan taktik di lapangan hijau, Matthias Jaissle dikenal sebagai pelatih yang mengusung gaya permainan dengan intensitas pressing tinggi dan agresif. Semasa menukangi Red Bull Salzburg, ia kerap menerapkan formasi dasar 4-4-2 berlian yang memberikan keleluasaan bagi para bek sayap untuk naik membantu serangan. Ketika tim sedang dalam posisi menguasai bola, seorang gelandang bertahan secara disiplin akan turun ke bawah guna membentuk barisan tiga bek sejajar. Pendekatan taktik tersebut dirancang untuk mendominasi area tengah lapangan sekaligus menjaga kestabilan transisi bertahan dari serangan balik lawan.

Karakteristik permainan tanpa bola dari tim asuhan Jaissle selalu menonjolkan skema pressing ketat dan sempit untuk menekan pergerakan pemain lawan ke area pinggir lapangan. Statistik mencatat bahwa Salzburg era Jaissle merupakan salah satu tim paling aktif di Liga Austria dalam hal catatan operan paling sedikit yang diberikan kepada lawan sebelum melakukan aksi perebutan bola. Skema pertahanan ini kerap bertransformasi menjadi bentuk 4-2-3-1, di mana lini depan bekerja keras menutup ruang gerak pemain belakang lawan. "Prinsip utama kami adalah merebut kembali bola secepat mungkin setelah kehilangannya," demikian filosofi dasar Red Bull yang selalu ia terapkan dalam setiap pertandingan.

Ketika memutuskan hijrah ke Al Ahli, Jaissle menunjukkan fleksibilitas strategi dengan mengadopsi sistem formasi konvensional 4-2-3-1 yang lebih terstruktur. Ia menempatkan pemain sayap berkualitas seperti Riyad Mahrez dan Galeno untuk mendukung penyerang tengah Ivan Toney dalam membongkar pertahanan lawan. Meskipun lebih mengutamakan pengorganisasian lini belakang yang solid di Arab Saudi, ia tidak pernah meninggalkan prinsip dasar pressing tinggi yang menjadi ciri khasnya. Tim asuhannya kini dikenal sangat berbahaya dalam melancarkan serangan balik vertikal yang cepat melalui sektor sayap setelah berhasil memutus alur aliran bola lawan.

Fleksibilitas taktik serta kemampuan beradaptasi dengan materi pemain yang ada membuat profil Jaissle sangat cocok dengan kebutuhan skuad Newcastle United saat ini. Kehadiran pemain baru seperti Bazoumana Toure serta keberadaan bek sayap cepat diprediksi akan sangat pas dengan skema permainan vertikal yang diusungnya. "Kemampuan meracik strategi sesuai potensi pemain menjadi kunci sukses seorang manajer modern," tulis laporan pengamat terkait potensi kepindahan sang pelatih. Publik sepak bola kini menantikan bagaimana penerapan taktik pressing intensif tersebut akan diuji dalam ketatnya persaingan kompetisi Liga Inggris musim mendatang.

Lusiana Patiran

Lusiana Patiran

Lusiana Patiran adalah jurnalis olahraga yang memiliki pengalaman lebih dari 8 tahun meliput sepak bola Liga Inggris, mulai dari Premier League, Championship, hingga FA Cup. Lulusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran ini dikenal dengan analisisnya yang tajam terhadap strategi permainan, transfer pemain, dan dinamika klub-klub Inggris. Ia telah meliput berbagai pertandingan besar seperti Derby Manchester, London Derby, dan final Piala FA secara langsung dari stadion.